Agama, Keluarga, Sekolah, Teman, OSIS, Ekskul.
Inget banget, 4 tahun yang lalu, saya nyebutin 6 poin itu dengan urutan yang sama.
Agama di atas semuanya. Keluarga di atas sekolah. Sekolah di atas teman dan organisasi.
Inget banget, 4 tahun yang lalu, saya nyebutin 6 poin itu dengan urutan yang sama.
Agama di atas semuanya. Keluarga di atas sekolah. Sekolah di atas teman dan organisasi.
Keluarga adalah hal yang vital buat saya.
Keputusan saya untuk memilih jalan hidup seperti ini adalah karena keluarga.
Fakta bahwa saya tetap bertahan di tempat seperti ini juga adalah karena keluarga.
Sepenting itulah keluarga buat saya. Seberpengaruh itu.
My mother went through an indescribable hard times untuk membuat saya ada di dunia ini. Saat saya masih kecil, beliau bolak-balik kantor just to make sure that I arrived safely at home. Beliau begadang berhari-hari untuk dapat rejeki lebih biar bisa punya simpanan untuk kuliah saya. Bertaruh nyawa, tenaga, waktu hanya untuk seonggok manusia ini. While my father, he spends more than half of his time working hard to make sure that I live well. He saves his money for me walaupun keuangan sedang tidak bersahabat. Saat gak ada orang di rumah, beliau bela-belain mampir ke rumah makan untuk beli lauk in spite of exhaustion just to make sure that I have something to eat. Beliau mempertaruhkan waktu, tenaga, dan pikirannya juga untuk saya.
Semua pertaruhan itu priceless. Gak bisa dinilai secara kuantitatif. Gak bisa dibayar dengan materi. Gak bisa ditukar dengan apapun.
Dan saya, sebagai seorang anak, have promised myself to give them what they deserve.
Saat ini, apa lagi yang bisa saya beri kepada mereka selain kabar bahagia?
Apa lagi yang bisa saya beri selain the fact that I live well and they have nothing to worry about?
Apa lagi yang bisa saya beri selain waktu untuk mereka?
Semua pertaruhan itu priceless. Gak bisa dinilai secara kuantitatif. Gak bisa dibayar dengan materi. Gak bisa ditukar dengan apapun.
Dan saya, sebagai seorang anak, have promised myself to give them what they deserve.
Saat ini, apa lagi yang bisa saya beri kepada mereka selain kabar bahagia?
Apa lagi yang bisa saya beri selain the fact that I live well and they have nothing to worry about?
Apa lagi yang bisa saya beri selain waktu untuk mereka?
Apa lagi yang bisa saya beri selain presence di saat ada kesempatan?
So, ketika suatu waktu saya pulang, dan meninggalkan tetek bengek disini, I must have my own reason.
I don't go home untuk senang-senang nor lari dari kenyataan. Saya gak se-dangkal itu. Saya gak se-childish itu.
More than just about me, I go home for my family, for my parents.
I go home to make sure that they are okay and they live well.
I go home untuk memberikan sebuah kebahagiaan, karena hanya inilah yang bisa saya lakukan. To be present, to be there for them.
People have their own fight. They have their own need, and they have their own little secrets. So, respect each other :)
I don't go home untuk senang-senang nor lari dari kenyataan. Saya gak se-dangkal itu. Saya gak se-childish itu.
More than just about me, I go home for my family, for my parents.
I go home to make sure that they are okay and they live well.
I go home untuk memberikan sebuah kebahagiaan, karena hanya inilah yang bisa saya lakukan. To be present, to be there for them.
People have their own fight. They have their own need, and they have their own little secrets. So, respect each other :)