Sunday, November 22, 2015

Mengertilah..

Agama, Keluarga, Sekolah, Teman, OSIS, Ekskul.
Inget banget, 4 tahun yang lalu, saya nyebutin 6 poin itu dengan urutan yang sama.
Agama di atas semuanya. Keluarga di atas sekolah. Sekolah di atas teman dan organisasi.



Keluarga adalah hal yang vital buat saya.
Keputusan saya untuk memilih jalan hidup seperti ini adalah karena keluarga.
Fakta bahwa saya tetap bertahan di tempat seperti ini juga adalah karena keluarga.
Sepenting itulah keluarga buat saya. Seberpengaruh itu.

My mother went through an indescribable hard times untuk membuat saya ada di dunia ini. Saat saya masih kecil, beliau bolak-balik kantor just to make sure that I arrived safely at home. Beliau begadang berhari-hari untuk dapat rejeki lebih biar bisa punya simpanan untuk kuliah saya. Bertaruh nyawa, tenaga, waktu hanya untuk seonggok manusia ini. While my father, he spends more than half of his time working hard to make sure that I live well. He saves his money for me walaupun keuangan sedang tidak bersahabat. Saat gak ada orang di rumah, beliau bela-belain mampir ke rumah makan untuk beli lauk in spite of exhaustion just to make sure that I have something to eat. Beliau mempertaruhkan waktu, tenaga, dan pikirannya juga untuk saya.

Semua pertaruhan itu priceless. Gak bisa dinilai secara kuantitatif. Gak bisa dibayar dengan materi. Gak bisa ditukar dengan apapun.
Dan saya, sebagai seorang anak, have promised myself to give them what they deserve.
Saat ini, apa lagi yang bisa saya beri kepada mereka selain kabar bahagia?
Apa lagi yang bisa saya beri selain the fact that I live well and they have nothing to worry about?
Apa lagi yang bisa saya beri selain waktu untuk mereka?
Apa lagi yang bisa saya beri selain presence di saat ada kesempatan?


So, ketika suatu waktu saya pulang, dan meninggalkan tetek bengek disini, I must have my own reason.
I don't go home untuk senang-senang nor lari dari kenyataan. Saya gak se-dangkal itu. Saya gak se-childish itu.
More than just about me, I go home for my family, for my parents.
I go home to make sure that they are okay and they live well.
I go home untuk memberikan sebuah kebahagiaan, karena hanya inilah yang bisa saya lakukan. To be present, to be there for them.



People have their own fight. They have their own need, and they have their own little secrets. So, respect each other :)
Ketika ingin membuat suatu perubahan, jadilah orang yang memegang andil paling besar dalam prosesnya, jangan mengandalkan orang lain, jangan membuat orang lain yang justru mengerjakan perubahan itu. Bukan seperti itu cara melakukan perubahan!


Kalau kamu yang beride, kamu jugalah yang jadi salah satu eksekutornya!
Jangan kamu yang beride, tapi orang lain yang jadi eksekutor, itu namanya biadab.
Ibaratnya seperti ini..
Kamu ingin menciptakan sebuah temuan baru, yang dimana saat itu kamu cuma punya pemikiran se-sederhana "saya mau buat ini karena ini bisa bermanfaat bagi orang banyak". Tapi pada prosesnya, untuk menjadikan pemikiran sederhana itu menjadi sesuatu yang real, kamu membuat orang lain yang turun ke lapangan, orang lain yang merealisasikannya, bukan kamu, dengan alasan "saya ingin memberikan orang lain kesempatan untuk menambah pengalamannya, saya ingin orang lain juga belajar". Karena alasan mulia itu, jadilah kamu sebagai pengamat nomor wahid, jadi pengawas ceritanya, ya mungkin sambil sesekali mengoreksi. Memberi saran atau bantu langsung? Hm sepertinya tidak, toh mereka ada disini untuk belajar, and problem solving is a part of learning. Dan ketika temuan yang dulunya hanya sebatas pemikiran itu akhirnya terealisasi, kamulah yang jadi pemegang hak patennya, kamu yang dielu-elukan masyarakat sebagai sang inventor, karena kamu adalah orang pertama yang memiliki ide akan itu. Biadab kan?


Hey..
Kami tidak butuh pemimpin yang hanya bisa jadi pengamat. Semua orang bisa jadi pengamat. 
Anak SD saja, asal diedukasi terlebih dahulu, bisa jadi pengamat yang baik. Percayalah, sudah terlalu banyak pengamat di dunia ini, and we don't need one.
Kami butuh sosok yang bisa menjadi role model untuk kami, yang kami tahu betul kinerjanya disamping mengamati, yang kami tahu betul kapabilitasnya.
Kami butuh sosok yang bersedia berjuang di lini terdepan, yang akan senantiasa menarik kami ketika tidak ada lagi tenaga kami yang tersisa, bukannya malah memerintah dari atas.
Kami butuh sosok yang bisa dijadikan tempat mengadu, bukan karena alasan memang harus laporan, tapi karena ia memang pantas jadi tempat untuk itu. 
Tapi intinya, kami butuh sosok yang kami tahu akan berjuang lebih keras dibandingkan kami. Hm.


Dan pertanyaan terakhir..
Sudahkah jadi orang itu, wahai Agent of Change?