Sudah waktunya, Nis.
Sudah waktunya menerima kenyataan bahwa anganmu
bukanlah kenyataan yang masih nyaru.
Sudah waktunya menerima kenyataan bahwa ia yang kau
damba selama ini hanyalah isyarat yang kau salah artikan, bahwa ia adalah satu
dari sekian banyak kesalahan yang pernah kau buat.
Sudah waktunya menerima kenyataan bahwa hidupmu dan
hidupnya bukanlah diagram Venn yang dibuat untuk saling memotong satu sama lain.
Kau dan ia bukanlah dua garis yang diciptakan untuk saling bersinggungan.
Jadi pergilah..
Jangan lagi berandai-andai atas jalan yang bukan milikmu.
Mulailah berjalan. Tak perlu kesiapan, tak perlu alat
navigasi, just walk. Biarkan semesta menjadi kompasmu satu-satunya. Semesta
tidak akan membiarkanmu tersesat.
Berjalanlah, cari tempat berpulang terbaikmu, cari
pelabuhan terakhirmu.
Yakinilah bahwa Tuhan adalah sebaik-baiknya sutradara
dari semua drama kehidupan. Dan kau, percaya Tuhan dan dirimu sama-sama
menginginkan yang terbaik.
One last cry? Tidak usahlah, menangis akan menyebabkan
kelelahan yang tidak jelas.
Berjalanlah, bukan karena kau terpaksa tapi karena
kau membutuhkan perjalanan yang lebih indah...
Jika kau menyayanginya, bahagianya akan menjadi
bahagiamu, sedihnya juga akan menjadi sedihmu.
Cinta lebih dari sekedar ketertarikan. Cinta adalah
sebuah pemahaman. Memahami tanpa harus berucap, menyayangi tanpa harus terikat. When it comes to love, tujuanmu adalah untuk membahagiakannya,
bukan untuk memilikinya. Dan aku, aku ingin kau bahagia.
Bandar Lampung, 13 Maret 2016.
Aku ingin bahagia. Kamu juga, kan?